Selasa, 09 Oktober 2012

sastra indonesia angkatan 66



A. Latar Belakang Masalah
 

Sejarah sastra membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sastra, hasil karya sastra serta corak-coraknya. Hal ini sangat penting untuk menentukan dasar-dasar penggolongan karya sastra dan penciptaanya, baik menurut bentuk maupun jamannya.
Sejarah sastra Indonesia dimulai pada abad ke-20 yang diwakili karya pengarang-pengarang Balai Pustaka. Dengan demikian, karya sastra yang dihasilkan sebelum abad 20 digolongkan ke dalam sastra Melayu.
Mengapa setelah angkatan ’45, muncul angkatan ’66 ? Pada era 50-an, beberapa penulis di Indonesia mengalami kegelisahan dalam karya-karyanya. Tulisan mereka mengalami krisis, dikarenakan hanya berupa tulisan-tulisan kecil yang berlingkar sekitar fsikologisme perseorangan semata. Aktivitas sastra hanya dalam majalah-majalah saja, karena sifanya majalah maka yang mendapat tempat yaitu yang berupa cerpen, sajak, dan karangan lain yang tidak begitu panjang sehingga munculah istilah ”sastra majalah”.
Berbeda dengan para pengarang pujangga baru dan angkatan 45, para pengarang periode 50 ini lebih menitik beratkan pada penciptaan. Hal tersebut berhubungan kurangnya pengetahuan mereka pada saat itu. Baru kemudian setelah berkesempatan menambah pengetahuan, mereka merumuskan cita-cita dan kehadirannya pada periode 60-an. Sehingga, angka ”50-an” terlewatkan dalam perkembangan sejarah sastra Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Jelaskan latar belakang munculnya angkatan 66 !
2. Jelaskan perbedaan angkatan 45 dan angkatan 66 !
3. Sebutkan siapa saja pengarang angkatan 66 ?

 

C. Tujuan


Berdasarkan rumusan masalah makalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan latar belakang munculnya angkatan 66
2. Menjelaskan perbedaan angkatan 45 dan angkatan 66
3. Mangetahui pengarang-pengarang yang tergolong angkatan 66












PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Munculnya Angkatan 66
Perbedaan-perbedaan pandangan mengenai seni dan sastra yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan politik, sudah sejak lama kelihatan dalam dunia sastra Indonesia. Pada awal tahun 50-an terjadi polemik yang seru antara orang-orang yang membela hak hidup angkatan 45 dengan orang-orang yang mengatakan ”Angkatan 45 sudah mati” yang berpangkal pada suatu sikap politik.
Para seniman muda tidak mau mengelompokkan diri dalam kelompok seniman untuk menyamakan persepsi. Semangat yang dimiliki seniman Angkatan 45 tidak mereka warisi dan mereka tidak menghayati revolusi fisik dengan baik. Seniman muda ini lebih memfokuskan diri pada menulis cerpen, puisi, dan naskah drama.
Periode 50 bukan saja sebagai pengekor Angkatan 45, tetapi sudah merupakan penyelamat setelah melalui masa-masa kegoncangan. Ciri-ciri periode ini antara lain :
1. Pusat kegiatan sastra telah meluas keseluruh pelosok Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta atau Yogyakarta saja.
2. Kebudayaan daerah lebih banyak diungkapkan demi mencapai perwujudan sastra Nasional Indonesia.
3. Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan pada perasaan kepada perasaan dan ukuran Nasional.
Pada tahun 1959, merupakan tahun yang membawa perubahan dalam dunia kesusastraan sebagai imbas dunia politik. Tujuan sastra pada mulanya mengangkat harkat dan martabat manusia dalam kehidupan yang memiliki nilai-nilai kebebasan dan kemerdekaan. Pada tahun ini sastrawan ingin mengembangkan karya sastranya, dilain pihak tekanan-tekanan partai politik yang mulai mengendalikan pemuda Indonesia sehingga muncul PKI, LEKRA, LKN, LESBUMI, HSBI, LESBI dan lain sebagainya.
Akhirnya Manikebu menjadi konsep sikap dan kepentingan dan kepentingan mereka sebagai angkatan dalam kesustraan yang kemudian dikenal dengan ankatan 66. Akibat fitnah PKI, Manikebu dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Setelah bangkitnya Orde Baru, tahun 1966, maka, Manikebu sebagai konsepsi Angkatan Kesusastraan terbaru, dijadikan landasan ideal Angkatan 1966. Isi Manikebu antara lain :
1. Kami para seniman cendikiawan Indonesia dengan ini mengumumkan sebuah manifes kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita politik kebudayaan kami.
2. Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi kehidupan manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan lain. Setiap sektor perjuangan bersama- sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.
3. Dalam melaksanakan kebudayaan nasional, kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa indonesia ditengah-tengah masyarakat dunia.
4. Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami.
Tiga dasar konsepsi angkatan 66 itu adalah :
1. Manifes kebudayaan itu sendiri.
2. Teks penjelasan Manifes Kebudayaan.
3. Sejarah lahir kebudayaan.

B. Perbedaan Angkatan 45 dengan Angkatan 66

NO ANGKATAN 45 ANGKATAN 66
1. Lahir karena politik, tidak memperhitungkan politik Lahir karena politik, memperhitungkan politik
2. Karyanya bernadakan perjuangan Karyanya bernadakan keadilan dunia
3. Mempunyai sikap sebagai warisan Menegaskan Pancasila peperangan
4. Mempunyai sikap sebagai akibat falsafah kebudayaan Menegaskan Pancasila sebagai falsafah kebudayaan
5. Berorientasi kepada pengarang dunia Lahir akibat penindasan HAM
6. Karyanya bersifat ekpresi puisi dan realis skeptis pada prosa Karyanya bersifat realis, aturalisme, dan ekstensionalisme
7. Merupakan nama kumpulan saja sastrawan melulu Merupakan wadah bukan sastrawan, tetapi juga budayawan, seniman, dan pelukis.



C. Penyair Angkatan 66
1. Taufik Ismail
Lahir di Bukit Tinggi 1937 tetapi dibesarkan di Pekalongan. Karya-karyanya berupa sajak, cerpen, dan essei mulai dikenalkannya pada tahun 1954. Namun baru mencut tahun 1966. Karyanya yaitu sajak Jaket Berlumuran Darah, Harmoni, Jalan Segara. Puisinya Karanganya yaitu Karangan Bunga, Salemba, dan Seorang Tukang Rambutan Kepada Istrinya.
2. Goenawan Mohamad
Lahir di Batang 1942, pernah menjadi wartawan harian KAMI, pemimpin redaksi majalah Ekspress, redaksi majalah Horison, Peminmpin majalah tempo dan Zaman. Karyanya antara lain Interlude (1973), Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), dan lain-lain
3. Mansur Samin
Lahir di Batang Toru Sumatera Utara, karyanya antara lain kumpulan puisi tanah air, Kebinasaan Negeri Senja (drama 1968), Baladanya yang terkenal ialah Sibagading Si Rajagoda, dan Raja Singamangaraja.
4. Hartoyo Andangdjaja
Lahir disolo 1930, kumpulan sajaknya berjudul simponi Puisi (1954) dan Buku Puisi (1973). Ia juga menterjemah buku antara lain Tukang Kebun (1976), Kubur Terhormat (1977), dan Novel Rahasia Hati 1978).
5. Piek Ardijanto Suprijadi
Lahir di Mangetan 1929, karyanya antara lain Burung-Burung di Ladang, Paman-paman Tani Utun.
6. Abdul Hadi W.M
Lahir di Sumenep 1949, karya-karyanya antara lain Riwayat, Terlambat di Ujung Jalan, Laut Belum Pasang, Tergantung Pada Angin.
7. W.S Rendra
Rendra termasuk penyair yang kritis. Karena berbagai macam sosial, segi pendidikan, ekonomi, pemerintahan selalu menjadi sorotan dalam karyanya. Karyanya antara lain Balada Sumirah, Balada terbunuhnya Atmo Karpo, Aminah.


SIMPULAN

Simpulan
Lahirnya angkatan 66 disebabkan :
1. Karena politik dan memperhitungkan politik
2. Karena bernadakan keadilan
3. Menegaskan Pancasila sebagai falsafah kebudayaan
4. Lahirnya sebagai akibat penindasan hak azazi manusia
5. Berorientasi kedalam negeri ( Pengarang nasional menggali kebudayaan daerah).
6. Karya bersifat naturalis, realitas, dan ekstensialitas
7. Merupakan wadah untuk para sastrawan , ahli budayawan dan pelukis




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar